Materi Homeschooling Gratis

Unknown | Saturday, August 31, 2013 | | 78 Comments so far
Bismillah

Sebenarnya tulisan ini sudah di-posting beberapa hari yang lalu. Tapi karena kecerobohanku, tidak sengaja terhapus. Jadi aku posting ulang lagi. Semoga bermanfaat.

Salah satu kemewahan dalam ber-homeschooling adalah kemudahan dan terbuka luasnya akses ke materi-materi belajar di internet. Tinggal di search di google, maka materi-materi itu akan berhamburan di depan mata, tinggal digunakan sesuai selera dan kebutuhan masing-masing keluarga. Bahkan jika rajin mengikuti newsletter website-website yang memang mengkhususkan diri berbagi materi homeschooling baik yang berbayar maupun yang gratis, materi-materi tersebut akan dihantar langsung ke hadapan kita via email.

Sebagai ibu yang gampang panikan tentang materi belajar anak-anak, berburu materi homeschooling menjadi suatu kelegaan tersendiri buatku. Walaupun kadang hal tersebut membuat diri sendiri menjadi gampang terintimidasi, karena rasanya lebih banyak 'doing nothing' sama anak-anak ketimbang belajar. Setelah beberapa hari yang lalu, aku bercerita tentang Teacher File Box, salah satu materi berbayar yang kami gunakan (ceritanya di sini), kali ini aku mau berbagi mater-materi gratis yang sempat menemani hari-hari awal kami ber-hs. Ada beberapa yang memang sering digunakan di rumah, tapi juga ada yang hanya jadi koleksi bookmark kami. Sebelumnya, daftar link-linknya sebagian juga aku posting di sini.

So here comes the list

DLTK's Crafts For Kids. Web ini berisi beragam materi untuk anak-anak, antara lain: Abjad, Angka, Bentuk dan Warna, dan lain-lain.


Jumpstart. Materi-materinya disusun berdasarkan grade, subjek, dan topik yang beragam.




All Kids Network. Di sini ada Seasonal Worksheets, Kids Learning Worksheets, Kids Holiday Worksheets, Animal Worksheets dan masih banyak lagi.
 `




Kids Learning Station. Buat orang tua yang punya anak-anak preschool dan kindergarten, bisa unduh materi-materi di sini.






Starfall. Di sini anak-anak bisa belajar mengenal huruf dan belajar berbahasa Inggris dengan sangat menyenangkan. Ini salah satu favoritnya anak-anak.






TLSBooks. Di sini kita bisa mengunduh materi-materi dari grade pre-k sampai grade 6. Subjeknya juga beranekaragam.



Kidzone. Di sini kita dapat mengunduh worksheet-worksheet matematika dari grade pre-k sampai grade 5.



Educatindotcom. Ada berbagai worksheet tersedia di sini.



Sementara itu dulu yaaa. Semoga yang kecarian link-nya gak kebingungan lagi :)

Notes : don't get underestimated, don't overload, don't overdo!


Read More

HS dan Sosialisasi

Unknown | Monday, August 26, 2013 | 8 Comments so far
Bismillah

Isu sosialisasi rasa-rasanya tidak pernah habis-habisnya dibahas dalam keseharian pelaku homeschooling. Jika membahas homeschooling, maka komentar yang paling sering didengar antara lain: 'Trus sosialisasi anaknya gimana?', 'Kasian anaknya kan? Nanti gak punya temen sebaya.', 'Anak-anak jadi gak bisa bermain leluasa dengan sebayanya dong', dan lain-lain lagi. Seakan-akan pelaku homeschooling itu sedemikian tertutupnya dari dunia luar, sampai gak punya temen! Nah lho!

Sosialisasi sebenarnya tidak terlepas dari kehidupan seorang manusia, baik yang sekolah maupun yang memilih tidak sekolah. Sosialisasi merupakan proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat dl lingkungannya: tingkat-tingkat permulaan dr proses -- manusia itu terjadi dl lingkungan keluarga. Dari pengertian di atas saja, tergambar jelas bahwa proses awal sosialisasi seorang anak terjadi BUKAN DENGAN YANG SEBAYA. Proses sosialisasi anak yang paling natural, paling awal adalah dengan keluarganya: ayah ibunya, kakek neneknya,  paman bibinya, seluruh anggota keluarga besarnya, yang bisa saja lintas gender, usia, suku, bahkan lintas negara dan agama. Sosialisasi adalah proses interaksi antar manusia, yang tentunya saling berbeda. Kenapa kemudian harus dipaksakan jadi sosialisasi antar manusia yang seragam?

Keluarga-keluarga homeschooler yang kukenal, memaknai sosialisasi seperti itu: interaksi antar manusia, baik yang memiliki kesamaan maupun perbedaan. Interaksi sosial adalah sesuatu yang wajar, karena manusia adalah makhluk sosial. Dengan demikian interaksi antar makhluk sosial inipun adalah suatu keniscayaan. Yang terpenting bukanlah 'menceburkan' anak-anak pada suatu sosialisasi tertentu, tapi menyiapkan anak-anak dengan aturan bersosialisasi, sehingga anak-anak bisa 'terjun' bersosialisasi di masyarakat yang beragam. Dan tugas orang tua adalah membantu anak menemukan jati dirinya sendiri sehingga anak mampu bersosialisasi dengan baik dengan tetap menjadi dirinya sendiri, tetap memegang teguh nilai-nilai yang dianutnya.

Selama anak melakukan interaksi dengan orang lain di luar dirinya sendiri, walaupun hanya satu orang, buatku sendiri itu sudah termasuk sosialisasi. Selama anak masih bisa menikmati hubungannya dengan orang lain, walaupun hanya dengan adiknya saja, orang tuanya saja, itu juga bentuk sosialisasi. Tidak perlu mempercepat proses sosialisasi anak, jika belum siap. Sama halnya dengan tak perlu tergesa-gesa memaksa bayi untuk bisa berjalan, dia akan berjalan sendiri sesuai waktunya, begitulah juga dengan proses sosialisasi anak. Ketika anak siap bersosialisasi lebih luas daripada hanya sekedar sosialisasi dalam keluarga, dia akan mencari bentuk-bentuk sosialisasi lainnya. Dan ketika anak-anak siap untuk meluaskan sosialisasinya, sebagai ibu, aku hanya bisa berharap dan berdoa: semoga aqidah mereka tetap kokoh dan mereka tetap menjadi diri mereka sendiri.

Allah Yang Memampukan
Read More

Gudang Materi Homeschooling Kami

Unknown | Saturday, August 24, 2013 | 6 Comments so far
Bismillah

Melihat ke belakang, ke awal-awal tahun kami memulai homeschooling, kebingungan yang paling sering meresahkan hati adalah: 'Mau pake kurikulum apa?', 'Mau pake bahan ajar dari mana, yang bagaimana?'. Keresahan ini membuatku paling sering bertahan di depan komputer, mencari dan terus menggali materi-materi untuk homeschooling. Materi-materi yang dicari tentunya adalah materi-materi yang bisa didapatkan secara gratis. Tapi karena keterbatasan waktu untuk merangkum seluruh materi-materi yang sudah didapat, akhirnya aku mulai melirik materi-materi yang sudah tersusun dan terorganisir, siap tinggal dipakai. Dan materi-materi seperti ini, biasanya tidak gratis, alias berbayar.

Setelah uji coba sana sini, aku jatuh cinta pada buku-buku Evan-Moor.  Tapi, subhanallah, harganya lumayan berat juga di kantong. Tapi menurut Lala, ada cara yang lebih murah untuk mendapatkan buku-buku Evan-Moor tersebut, yaitu via Teacher File Box. Jika via Evan-Moor, kita membeli buku per buku yang kita butuhkan, maka di Teacher File Box (TFB), kita berlangganan untuk mendapatkan akses ke berbagai buku keluaran Evan-Moor. Buku-buku yang ingin diakses pun bisa dicetak dan dipakai kapan saja. Selain itu juga, buku-buku tersebut bisa ditambahkan di Lesson Plan yang ada di akun kita. File-file yang ada di TFB bisa diakses per grade, dari grade pre-k sampai grade 6. Materinya juga sangat beragam, antara lain: Arts and Crafts, Language Arts, Literature, Math, Reading dan Writing. Kita bisa puas browsing semua materi yang ada.

Untuk berlangganan juga cukup mudah. Cukup klik di sini dan ikuti semua petunjuk yang ada. Ada dua pilihan berlangganan: bulanan seharga $12,99/bulan dan tahunan seharga $99,9/tahun. Mahal memang, tapi menurutku itu harga yang pantas, karena secara keseluruhan, materi di TFB sangat-sangat memuaskan. Untuk keluarga homeschooling dengan satu anak, mungkin terasa agak berat. Tapi untukku, ber-hs dengan 3 anak, bermodalkan $99,9 setahun, itu sungguh penghematan besar. Ditambah lagi, aku hanya membayar $70 setahun dan bukan $99,9. Lebih hemat lagi kan? (Cara mendapatkan diskon TFB-nya dibahas di postingan selanjutnya ya.)

Jadi sekarang, kegundahan untuk materi belajar anak-anak sudah jauh berkurang. Walau kendala belajarnya tetap saja ada: mamanya yang kurang konsisten, anaknya yang bosen dan lain-lain. Tapi setidaknya, aku sudah punya gudang materi ber-hs yang siap dibuka kapan saja, tinggal pilah-pilih sesukanya.

Read More

HS, Trus Belajarnya Pake Apa?

Unknown | Tuesday, May 28, 2013 | | 4 Comments so far
Bismillah.

Sebagai seorang Ibu, tentunya aku ingin anak-anakku mendapatkan segala yang terbaik yang pernah aku dapatkan, juga dalam hal pendidikan. Aku ingin anak-anak mendapatkan ilmu dari sumber terbaik yang bisa kujangkaukan untuk mereka. Rasanya tidak berlebihan juga kalo dibilang, aku siap berkorban apa saja untuk pendidikan dan kesejahteraan mereka. Adalah naluriah setiap Ibu ingin melindungi dan mencukupi kebutuhan anak-anaknya.

Ketika pilihan homeschooling datang di hadapan kami, yang timbul adalah rasa panik: 'Apa yang mau kuberikan pada Aqeela?' 'Aku gak bisa ngajarin Fisika, Kimia dll?' 'Aku gak punya ketrampilan mengajar.' 'Aku gak tau semua ilmu.' 'Aku dapat bahan ajarnya dari mana?' 'Aduh, aku bakalan menghancurkan anakku sendiri dengan ketidaktahuanku #lebay#.'. Beribu-ribu pertanyaan yang meragukan diri sendiri, meragukan kemampuanku mengajar anakku, belum lagi kemampuanku mendidik dan mengasuh anak juga masih diragukan >.<  Tapi berbekal keinginan kuat dari Aqeela, aku maju. Jalan satu-satunya: browsing.

Waktu pertama kali browsing, ketemunya sama catatan keluarga Pak Aar dan Bu Lala. Lalu gabung di milis Sekolah Rumah, bahkan sempat kirim email khusus ke Pak Aar menanyakan bagaimana ni mau nekad HS tapi aku bekerja. Walau sudah diyakinkan Pak Aar bahwa bisa-bisa saja, tetap tidak yakin. Masih saja bertanya-tanya: 'Bagaimana nanti kalo pertanyaan anakku, tak bisa kujawab?' 'Bagaimana nanti kalo aku gak bisa lagi menemani belajarnya, karena keterbatasan pengetahuanku sendiri?'. Hadeuuhh, kalo mikir ke masa itu, kok kayaknya ribed banget ya aku. Tapi ternyata memang itulah proses yang harus dilewati. Masa-masa kalut, meribedkan diri dengan hal yang tak penting itu ternyata PENTING!!! Karena dengan begitu, segala pertanyaan galau bin kacau keluar semua. Layaknya laut lagi bergelora, segala hal dimuntahkan. Dan ketika badai sudah berlalu, yakinlah, cuaca akan lebih nyaman dan pemandangan akan lebih jernih ^_^

Dari berbagai pertanyaan tak penting bin galau bin kacau itu, kemudian proses mengendapkan berlangsung. Satu satu pertanyaan diurai. Dan ternyata, pertanyaan besar tentang bagaimana nanti aku menemani anak-anak belajar dan dari mana aku bisa dapatkan bahan dan materi ajar sudah terjawab dengan baik. Salah satu sumbernya: INTERNET dan bahkan ada yang GRATIS pulak #mata langsung berbinar-binar ala emak-emak#. Maka badai tahap II pun berlangsung. Iya, BENER, bener-bener BADAI. Badai kedua itu bernama: KEBANJIRAN BAHAN AJAR. Gak percaya? Coba search deh, pake kata kunci yang biasa aku pake: 'free resources for children' 'free homeschooling resources' dll dsb dsk. Belom kena badai? Pake yang lebih spesifik: 'free math' 'free english for kids' dll dkk. Belom kena juga? Pantengin FB-ku deh hehehe #promosi terselubung#.

Badai tahap II inilah yang kemudian melahirkan seleksi tingkat tinggi: 'apa yang penting?', 'apa yang harus didahulukan?'. Ini semua dikembalikan lagi kepada tujuan pendidikan masing-masing keluarga. Buatku sendiri, pendidikan adalah salah satu cara untuk mengenal Allah dan memberikan kontribusi terbaik sebagai ciptaan Allah yang terbaik. Jadi sekarang, aku lebih menekankan pendidikan berbasis Islam buat kami sekeluarga. Kami belajar Islam lagi, belajar Al Qur'an lagi bersama-sama. Maka sumber-sumber belajar yang penting buat kami sekarang ya belajar tentang kewajiban sebagai seorang Muslim.

Dan tetap saja, badai itu tetap berlangsung. Mana yang mau didahulukan, bahan mana yang mau dipake lebih dulu, tetap jadi pergulatan harian untuk menentukan materi belajar kami. Apalagi aku termasuk yang hobi window shoping materi belajar, maka yang sering adalah, kelelep alias hampir tenggelam dalam berbagai informasi yang ditawarkan, asli sampai sesak nafas milihnya hehehe. Yang gratisan? Bejibuuunnnn!!!!

Jadi kalo gak yakin tentang apa yang mau dipelajari dan dari mana bahan belajarnya, rajin-rajinlah browsing. Akan ada banyak kok, yakin. Jangan takut, jangan gentar, Allah membuka jalan dan memudahkan jalan bagi orang yang menuntut ilmu (redaksi hadits dan perawinya lupa *tutupmuka*). Ada banyak bahan tersedia untuk belajar, dari yang gratis sampai yang berbayar tersedia, tinggal milih mau pake apa.

Kapan-kapan, aku akan cerita tentang bahan yang aku pake buat anak-anakku tahun ini. Tapi bukan yang gratisan yak, yang berbayar ^_^ Tapi tetap lebih murah kok.


Allah yang memampukan ^_^
Read More

Homeschooling dan Makanan (Sebuah Analogi)

Unknown | Friday, May 24, 2013 | Be the first to comment!
Bismillaah

Setelah kemarin, aku menulis tentang apa itu homeschooling dengan berapi-api (baca ini), kali ini aku mau cerita tentang homeschooling (lagi) dengan lebih santai. Dan biar tidak terkesan terlalu serius dan keliatan keren #ehem#, aku mau pake analogi. Dari Kamus Bahasa Indonesia Online, analagi bisa diartikan sebagai persamaan atau persesuaian antara dua benda atau hal yg berlainan. Jadi, apa sih persamaan atau persesuaian antara homeschooling dan makanan?

Pendidikan itu bagian dari kebutuhan kita, layaknya kebutuhan kita akan makanan dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Setiap pribadi berusaha memenuhi kebutuhannya masing-masing. Sebagaimana setiap pribadi tercipta berbeda satu sama lain, berbedalah juga cara setiap pribadi memenuhi kebutuhannya tersebut, dilatarbelakangi perbedaan selera, lingkungan tempat tinggal, kultur dan kebiasaan.

Bagi yang senang dan jago memasak, memasak adalah cara utama untuk memenuhi kebutuhan akan pangannya. Bagi yang tidak terlalu suka, tidak terlalu pinter atau tidak sempat memasak, ada berbagai alternatif yang bisa dipilih, apakah memperkerjakan seorang juru masak di rumah, membeli lauknya saja di warung atau restoran yang sesuai selera, atau sama sekali menyerahkan urusan makanan ini kepada ahlinya dengan cara berkatering. Apapun caranya: memasak, memiliki juru masak, membeli lauk ataupun berkatering ria, tujuannya tetap satu: MEMENUHI KEBUTUHAN akan makanan tersebut. TIDAK ADA YANG SALAH dengan caranya, semua cara sah-sah saja.

Bagi yang memasak, juga bebas untuk memilih supplai bahan makanannya dari mana: dari warung, dari pasar tradisional, dari supermarket terkenal atau dari mbok sayur yang lewat depan rumah. Bahkan jika supplainya diasup oleh kebun sendiri, juga tetap sah. Yang penting tujuannya tercapai: memenuhi kebutuhan. Yang memilih juru masak juga begitu. Mau pilih juru masaknya dari suku apa, mau berjenis kelamin laki-laki atau perempuan, tinggi atau rendah perawakannya, yang penting masakannya pas selera, yang lagi-lagi tujuannya satu: memenuhi kebutuhan. Begitu juga dengan pilihan yang lainnya: beli lauk saja atau berkatering. Tidak ada yang salah dengan pilihan tersebut. Yang jadi salah, kemudian adalah: sudah jelas tidak dipasok sendiri kebutuhannya, trus ngaku-ngaku.

Untuk kasus homeschooling, itulah yang sering terjadi. Kalo dianalogikan, homeschooling itu seperti memasok kebutuhan pendidikan anak dengan cara 'memasak', mengolah sendiri di rumah. Mau pake juru masak, mau supplainya dari A, B, C, boleh-boleh saja. Mau sesekali pake beli 'lauk' di Toko A, B, C, tetap sah-sah saja. Yang jadi berabe adalah, ketika jelas-jelas kebutuhan itu dipasok keseluruhan ala 'katering', trus penyedia katering pendidikan ini ngaku-ngaku penyedia katering homeschooling. Ini jelas salah kaprah. Yang namanya homeschooling, semua tanggung jawab, semua biaya dianggarkan oleh keluarga. Kalo lagi sempat ya 'masak sendiri' alias materi dibuat sendiri, atau ada yang beli materi, atau minta tolong seseorang untuk 'memasakkan' sesuatu. Semua menunya, dicek ricek lagi oleh keluarga. Seluruh anggarannya disesuaikan lagi dengan bujet belanja keluarga setiap harinya, yang bisa bervariasi setiap hari. Tapi jika sudah memilih katering, jelas materi dan biayanya ditentukan oleh pihak penyedia, dan jelas disebut tidak memasak sendiri. Jika proses pemenuhan kebutuhan pendidikan anak sudah disupplai oleh pihak penyedia, itu bukan homeschooling lagi. Karena seluruh materi dan biayanya sudah bukan lagi ditentukan oleh pengguna jasa. Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan cara pemenuhannya. Yang salah itu, mengaku-ngaku homeschooling tetapi tidak homeschooling, mengaku homeschooling, padahal jelas-jelas pake jasa penyedia pendidikan.

Tidak ada yang salah juga dengan adanya penyedia jasa pendidikan tersebut. Kita, masyarakat tetap butuh mereka. Tapi buat penyedia jasa seperti ini, coba deh, namanya jangan homeschooling. Kan jelas-jelas itu sudah menyesatkan, sudah salah menempatkan istilah.

Apapun caranya, kan yang penting kebutuhannya terpenuhi. Kalo memang dengan sekolah, apapun bentuknya, mau sekolah negeri, swasta ataupun privat maupun flexi school sekalipun, selama kebutuhan pendidikan terpenuhi. Tapi sekolah ya tetap sekolah, homeschooling tetap homeschooling, tidak mungkin bertukar. Sama tidak mungkinnya rendang tiba-tiba bertukar jadi tempe bacem. Tapi sekali lagi, tidak ada yang salah. Mau sekolah boleh, mau homeschooling boleh. Yang gak boleh itu, yang jelas-jelas sekolah, ngaku-ngaku homeschooling, yang jelas-jelas homeschooling trus ngaku-ngaku sekolah. Bingung kan? Aku aja bingung, plus laper niii, gara-gara bahas makanan.

Tentukan pilihan, mau homeschooling atau sekolah. Jangan campur-campur, karena ibarat air dengan minyak yang gak bisa tercampur, begitu jugalah hakikat homeschooling dan sekolah. Tidak ada yang salah dengan kedua pilihan tersebut. Yang penting kebutuhan anak akan pendidikan terbaik terpenuhi, titik gak pake koma gak pake tapi.
Read More

Homeschooling itu...

Unknown | Wednesday, May 22, 2013 | | 1 Comment so far
Bismillaah

Sebenarnya hari ini mau nulis apa saja yang perlu dipersiapkan keluarga yang mau ber-homeschooling. Tapi kemudian, seorang sahabat mengabarkan bahwa ada HS B, milik seorang tokoh penting sedang launching di Pekanbaru, setelah sebelumnya ada HS A, yang juga milik seorang tokoh lainnya. Eng ing eng...kekesalan lama yang sudah terlupakan muncak lagi deh. Hari ini bahas ini aja deh...'Homeschooling itu apa?'.

Berhubung tidak sedang pegang buku apapun, karena sedang di kantor, aku merujuk ke Wikipedia saja ya. Menurut Wikipedia: Homeschooling or homeschool (also called home education or home based learning) is the education of children at home, typically by parents or by tutors, rather than in other formal settings of public or private school(selengkapnya bisa dibaca di sini). Jadi, yang namanya homeschooling itu adalah pendidikan anak di rumah, sekali lagi di rumah, DI RUMAH, yang biasanya diberikan oleh orang tua atau tutor dan bukan pendidikan yang diberikan secara formal baik oleh lembaga pemerintah (umum) maupun sektor swasta, sekali lagi BUKAN SEKTOR SWASTA (harap maklum, ini lagi esmosi ni hehehe). Jadi, homeschooling itu bener-bener tanggung jawabnya ada di pihak keluarga: ayah, ibu, anak, kakek, nenek, seluruh keluarga, mau melibatkan keluarga besar atau yang kecil boleh, yang penting seluruh keluarga terlibat di dalamnya. Kalo kemudian sudah ada lembaga, apapun bentuknya, yang mengatur segala aktifitas pendidikan anak kita, ya legowolah bilang bukan homeschooling, titik gak pake koma. Kan kalo sekolah juga gak masalah kan? Homeschooling bukan buat gengsian dan juga bukan jaminan kekerenan seseorang atau keluarga kok.

Jadi yuk bikin list aja, biar jelas sejelas-jelasnya dalam tempo sesingkat-singkatnya #eehhh. Disebut homeschooling jika:
Seluruh aktifitas pendidikan anak berada dalam tanggung jawab seluruh keluarga, terutama orang. Anak belajar di rumah yang difasilitasi oleh orang tua atau orang yang dipercayakan untuk memfasilitasi (guru les, tutor dll). Pengertian di rumah ini gak sempit hanya di rumah sendiri, boleh di rumah temen, rumah tetangga atau tempat-tempat lain. Yang jelas, ada tanggung jawab penuh kedua orang tua di mana pun anak belajar. Orang tua bebas memilih, mau ngajar sendiri anaknya, atau pake guru yang membantu. Kehadiran bantuan seperti tutor dan lain-lain itu hak mutlak, hak veto-nya orang tua. Mau pake boleh,gak pake juga tetap sah! #eehh Seluruh sarana di luar rumah sifatnya membantu dan bukan penentu homeschooling anda.

Bukan homeschooling jika: Seluruh aktifitas pendidikan anak anda diserahkan pada pihak-pihak yang menyebut komunitas atau lembaga homeschooling. Apalagi dengan ancaman: 'kalo gak bergabung akan susah berijazah, bahwa hanya di situlah bakat anak anda akan terasah dengan baik kalo memilih homeschooling'. Kalo ada lembaga yang mengaku lembaga homeschooling, ayo cermati lagi: tu lembaga ngerti gak hakikat homeschooling. Seluruh tanggung jawab proses belajar anak ada di suatu lembaga tertentu. Ini mah, pindah sekolah neng. Pindah sekolah ke tempat privat yang sangat-sangat privat sehingga belajarnya one to one, satu guru satu murid. Teng tong, salah besar, this is not homeschooling.

Jadi, ini bukan soal homeschooling itu keren dan keren sekali, trus anak dititipin ke homeschooling A, B dan C. Homeschooling itu pusatnya, sentralnya, pusat tata suryanya adalah keluarga. Please deh, pake istilah dengan benar. Trus, kalo anaknya di homeschooling A, B atau C, sentralnya di mana? Layakkah menyebut homeschooling? Eh, aku gak anti dengan lembaga-lembaga yang membantu pengurusan ijazah, paket A,B dan C ya. Sama sekali tidak. Karena itu beda bahasan. Bedanya jauuuhhhh antara kutub utara dan kutub selatan. Cuma ingin membantu meluruskan istilah, homeschooling itu pendidikan anak berbasis rumah yang diselenggarakan oleh suatu keluarga TITIK tanpa koma tanpa tapi.

Mari refleksi sendiri, apa motif dan tujuan ber-homeschooling masing-masing kita. Kalo ternyata, tujuan pendidikan anak-anak bisa dicapai dengan bersekolah, ya sekolah. Kalo ternyata tidak, cari alternatif. Homeschooling itu alternatif yang jadi pilihan jika memang sesuai dengan visi misi keluarga kita. Dan sekali lagi pusatnya keluarga, bukan lembaga, bukan kelompok tertentu. Kalo ibaratnya ni, anak kita gak cocok di suatu sekolah negeri yang muridnya banyak, trus dipindahin ke sekolah swasta yang rasio guru muridnya lebih sedikit, eh tetap gak cocok, pindahin deh ke lembaga privat. Nah! Yang ngaku-ngaku homeschooling itu, ya lembaga privat itu. Bukan homeschooling. Emangnya kalo di rumah, anak tidak bisa terasah bakatnya? Mau contoh? Googling deh! Banyak kok yang sukses walau belajarnya dari rumah.

Sekali lagi, aku tidak anti sekolah, tidak anti lembaga-lembaga pendidikan. Hanya ingin mendudukkan, pakailah istilah sesuai maknanya. Homeschooling ya homeschooling, basisnya di rumah, bukan di ruko, atau bangunan lainnya. Rumah di sini bukan fisiknya ya. Kalo susah ngerti pakai istilah rumah, pake enggres deh, homeschooling itu 'home' bukan 'house'. Beda home dan house? Googling! ^_^ Homeschooling itu gak bisa di-franchise-kan. Mosok rumah sendiri di-franchise-kan? *garuk-garuk tembok*

Jadi ketika ingin ber-homeschooling, trus gak pede dan minder, trus 'aha!, ini ada homeschooling A, B dan C', yakinlah, bahwa itu bukan homeschooling. Tanpa bosan-bosan diulang, homeoling itu basisnya di rumah kita sendiri, mau kontrakan, mau gedong tingkat seratus. Selama tanggung jawabnya full pada keluarga tersebut, itu ber-homeschooling. Selama aktifitas belajar anak-anak, masih anda yang mikirin sampai botak, ya itu homeschooling. Kalo kemudian anak ikut ngintilin ke dapur, berantakin seluruh alat memasak anda, menumpahkan segala macam tepung, air, beras dan lain-lain dan dengan santai kemudian anda mengajak anak anda bereksplorasi bersama, belajar di dapur tersebut, itu juga homeschooling. Belum jelas juga? Nanti deh kapan-kapan dibahas lagi.
Read More

Mau HS? Jangan Minder!!!

Unknown | Tuesday, May 21, 2013 | | 3 Comments so far
Bismillaah

Kalo membayangkan keluarga HS yang rumahnya rapi, ayah yang siap sedia membantu setiap saat, ibu yang ramah, bertutur kata halusss sepanjang waktu dengan rumah rapi jali tertata rapi; dengan anak-anak manis yang sopan, rajin belajar, well...kayaknya itu sih sedang membayangkan keluarga super hero, bukan keluarga HS ^_^

Kalo kemudian mau dan tertarik HS tapi gak pede dan merasa gakkan, gakkan pernah bisa ber-HS: 'saya kan gak teratur', 'saya kan moody', 'saya kan gak disiplin banget', 'saya gak sabaran dan pemarah' dan berjuta-juta 'saya-saya' lainnya yang membuat makin tak yakin dengan kemampuan ber-HS, aku mau ucapin 'welcome to the club'. Selamat datang di dunia HS yang penuh kegalauan #galau kok bangga ya?colek my queen Irma#.

Ketika membayangkan keluarga HS yang penuh kesempurnaan, mau yuk aku ajak mengintip keluarga HS yang sebenarnya. Yakin deh, ini berdasarkan kisah nyata, karena aku sudah pernah bertemu, ngobrol, bahkan memeluk para ibu-ibu yang digambarkan punya kesabaran tingkat dewa dengan tangan delapan yang siap mengelap setiap kotoran yang singgah di rumahnya, punya kepintaran yang menembus bulan bintang, punya tenaga layaknya Superwoman yang gakkan pernah capek ^_^ Tapi, sebelumnya aku ajak mengintip dulu ke keluargaku, yang dengan PEDE-nya memproklamirkan diri bahwa kami keluarga HS.

Bayangkan seorang Ibu yang bangun kesiangan dan bergegas mengepel, kalo sempat ya nyapu seadanya, trus sibuk membangunkan anak-anak agar bisa dimandikan sebelum si Ibu mengantor. Si ibu yang sibuk melipat selimut, membereskan tempat tidur sambil mulutnya terus mengomel tentang perlunya anak-anak mandi sebelum mamanya ngantor, agar nenek dan atoknya tidak perlu repot-repot lagi memandikan. Well, that's real, that was one of our mornings. Bayangkanlah mainan yang berserakan di setiap penjuru ruangan, bayangkanlah rak buku yang baru saja tertata rapi, setengah jam kemudian buku-buku sudah berserakan di lantai atau bahkan sudah disusun menjadi menara oleh anak keduanya yang sedang hobi menyusun-nyusun. Well, that's real too. Bayangkan ada setiap pojok yang lupa dipel, bayangkan seluruh jadwal yang sudah bersusah payah disusun untuk dikerjakan pada malam hari ketika si ibu sudah berada di rumah, buyar total demi mengoreksi (baca: mengomeli, memarahi) satu perbuatan yang mendidihkan darah ibu yang padahal, besok akan dilakukan lagi oleh sang anak; That's real too, that is our family ^_^

Masih belum percaya? Tanyalah pada seluruh keluarga HS yang anda kenal, inbox, email atau telpon kalo perlu. Tanyakanlah: sesempurna apa kehidupan HS mereka? Saya jamin jawabnya: kami tidak sesempurna itu. Ada masa-masa kami merasakan nikmatnya ber-HS dengan smooth. Tanpa hambatan sama sekali. Tapi ada kalanya kami terbentur, tersandung bahkan jatuh berdarah-darah. Memang gak terekspos, bukan demi menjaga image, tapi karena lingkaran sahabatlah yang kami perlukan saat itu. Lingkaran sahabat yang menguatkan kami, lingkaran sahabat yang mengangkat kami berdiri lagi, membantu kami mengobati luka, menyabarkan kami untuk merawat dan menunggu sampai luka itu sembuh agar bisa berjalan lagi. Ya, kami memilih lingkaran sahabat kami untuk membuang sampah-sampah kami, agar sampah itu tidak menghalangi langkah kami untuk maju.

Kalau pun kemudian yang terbayangkan teman-teman semua, betapa sempurnanya HS kami, betapa sempurnanya seluruh prosesnya dan kenapa tidak pernah ada cerita-cerita sedih, pedih ber-HS yang pernah terdengar, itulah alasannya. Cerita sedih kami, kami simpan untuk diri kami sendiri dan lingkaran sahabat kami untuk kemudian di suatu masa, cerita itu kami tertawakan bersama.

Jangan pernah minder, yakin sajalah untuk maju. Yakin saja untuk memulai dan berjalan layaknya bayi. Jatuh itu pantas, manusia itu tempatnya salah kok :)
Kalo kemudian terbayang bahwa keluarga A yang ber-HS itu sempurna, segera hapus bayangan itu. Keluarga HS bukan keluarga super hero, bukan sekelompok dewa dewi. Kalo pake kata Wiwiet: keluarga HS itu keluarga normal, biasa-biasa aja, penuh kegalauan tapi maju terus melangkah, dengan tantangan masing-masing yang unik tergantung sikon .

Jadi mau HS? Pede-lah, jangan minder. Get inspired, not intimidated. Tidak ada kesempurnaan kecuali Allah, dan Allah-lah yang akan memampukan kita ^_^

*Dedicated to all the friends in our lives, we owe you all.
Read More