Bismillaah
Sebenarnya setelah nulis ini kemaren, aku masih pengen nulis tentang kenekadan ber-HS. Tapi kayaknya topik yang sekarang dijadikan judul lebih penting, biar gak dikejar-kejar terus sama pertanyaan: 'trus anaknya belajarnya gimana?' 'jadwalnya gimana?' 'belajarnya apa aja?' 'berapa jam sehari anak-anak belajar?' dll dsb. Kalo ntar dijawab seperti biasanya jawabanku: 'gak ada jadwal khusus kok' atau 'anak-anakku di rumah gak ngapa-ngapain, cuma maen doang' atau 'yaaaa...belajar apa aja yang anak-anak mau', kok ya kesannya gimanaaa gitu hehehe.
Sebenarnya sekali lagi ini hanyalah masalah sudut pandang. Kita sudah dikotakkan dengan bahwa kita itu mesti belajar dengan 3D: Duduk, Diam, Dengarkan. Padahal belajar itu jauuuuhhh lebih luas daripada itu. Menurut Kakek Wikipedia, Belajar itu adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon (lengkapnya baca di sini aja ya). Proses bagaimana stimulus jadi output itu abstrak, tak bisa diamati, tak bisa diukur, tidak terukur. Karena tidak bisa diukur dan tidak terukur, gak bisa dibilang seseorang (baca: anak) itu gak belajar juga kan ya, kalo kerjanya lari-lariaaaan terus, lompat sana lompat sini atau hanya duduk diam tidak mau berinteraksi. Mungkin ketika itu dia sedang belajar ^_^
Jadi kalo trus ketika pertanyaan seperti dijudul muncul dan jawabanku tetap keukeuh, 'ya gak ngapa-ngapain kok anaknya', 'anaknya maen aja kok kerjaannya seharian di rumah', walau sepenuhnya tidak berarti tidak belajar, ya memang itulah yang terjadi di rumah kami. Anak-anak bebas memilih mau apa hari itu. Boleh main boneka seharian, boleh main puzzle seharian, boleh main balok, main air (walau dengan sederet wanti-wanti ala Mama), berantem (lagi-lagi dengan sederet wanti-wanti Mama) dan lain-lain. Anak-anak di rumah difasilitasi oleh Kakek Neneknya, kami berlangganan TV Cable yang minim iklan, ada internet 24 jam yang bisa dipake anak-anak browsing dan main game sepuasnya. Kalo mau belajar agak-agak serius...nanti ya nunggu Mama pulang kantor hehehe.
Kalau pun Mamanya sudah pulang ngantor, tidak serta merta juga aura belajar itu berubah. Kebanyakan yang dilakukan adalah menemani anak-anak main game di internet, merapikan mainan yang sudah berserakan ke segala penjuru ruangan, nonton acara TV kesukaan mereka, bercanda, baca buku atau sekedar ngobrol saja. Ada kalanya kami saling teriak, marah-marah untuk mengkomunikasikan isi hati kami >_< Ada kalanya diskusi panjang hanya untuk mengoreksi satu perbuatan yang itu lagi, itu lagi. Untuk materi belajar anak-anak, aku berlangganan beberapa materi online yang bisa diakses kapan saja. Kapan-kapan aku cerita deh, kami berlangganan apa saja untuk bahan belajar di rumah.
Balik ke topik awal, masalah belajar ini bener-bener harus melepas dogma bahwa belajar itu HARUS A, B, C dsb. Dalam belajar itu tidak ada kata HARUS, yang ada hanyalah kata BOLEH. Belajar gak harus duduk diam, belajar gak harus pake buku atau buku khusus, belajar tidak harus dengan guru tertentu. Tapi belajar duduk? Boleh. Belajar pake buku? Tentu boleh. Belajar dengan guru khusus? Ya silahkan, wong boleh ini. Ketika lepas dari BELAJAR itu HARUS....dijamin deh, akan lebih damai menyikapi apapun tingkah dan polah belajar anak-anak. Dan jangan dilupakan, bahwa kita juga sedang belajar bersama mereka. #catatan penting: walau sudah nulis begini, seringnya aku juga masih belum bisa melepas 3D ituh huhuhu#
Jadi kalo HS, trus emaknya kerja, belajarnya gimana? Ya begitu itu...belajar kapan saja, di mana saja, dengan siapa saja, tambah satu lagi ya, dengan cara apapun ^_^
Allah saja yang memampukan.
Read More
Showing posts with label Work and HS. Show all posts
Showing posts with label Work and HS. Show all posts
Kan Kerja? Kok Nekad HS?
Bismillaah
Yak, bener 100 persen. Menurutku, orang tua yang bekerja, tapi memilih homeschooling buat anak-anaknya itu NEKAD. Kurang kerjaan dan gak mikir panjang. Abis kerja kan capek, belum lagi ngurusin anak yang lebih dari satu, belum lagi ngurusin perintilan rumah yang ga ada habis-habisnya, mana ga punya asisten rumah tangga lagi, belum lagi mikirin materi belajar anaknya, belum lagi mengontrol emosi sampai tingkat dewa. #eeehh, ini lagi nyeritain diri sendiri ya?hmmmm...# Jadi kesimpulanku, yang nekad hs sambil bekerja itu kalo gak super duper hebat pasti karena agak gila. Dan karena sadar bahwa diri bukan yang pertama, aku otomatis adalah yang kedua. #yaaaah, jadi ngaku deh.
Homeschooling dan bekerja itu asli capek. Meletihkan sekali. Pulang kerja harusnya istirahat atau mau beres-beres, harus rela dan siap diintilin sama berjejer pertanyaan yang harus direspon, karena sudah dipendam beberapa jam selama mamanya ngantor, mumpung mamanya sudah di rumah. Belum lagi capek-capek dari kantor, langsung disuguhi adegan berantem ala kakak adik yang tak jarang juga mendidihkan darah si mama. Sambil beres-beres rumah pun, tak jarang kepala diberatkan dengan pikiran 'anakku sudah belajar apa?' 'besok harus ngapain ya?' 'duh, ni anak dikasih materi apalagi?' 'ni anak-anak kenapa ga nurut sama mamanya sih?' dll dsb dsk dst...lanjutin sendiri deh #lhaaa...malah nyuruh-nyuruh#.
Bukan tidak pernah menyekolahkan Aqeela, si sulung yang sekarang umurnya 6 tahun lebih. Karena kawatir dengan 'gimana ni sosialisasi anakku?', Aqeela pernah didaftarkan ke PAUD dekat rumah, yang hasilnya adalah, anaknya gak mau masuk dan belajar, kecuali mamanya ikut masuk dan duduk di sampingnya. Pernah dicoba ditinggalin saja, biarin deh nangis, ntar juga berhenti sendiri, nanti lama-lama juga betah di sekolah. Lhaaa...kalo sampai berminggu-minggu tetap begitu, aku gak bisa ngantor dong? Lhaaa...kalo sampai berminggu-minggu tetap nangis, mogok sekolah tanpa mama, nelangsa amat ya nuntut ilmu itu. Keputusannya: gak usah sekolah deh, gak tega liat yang nangis-nangis hanya karena mau belajar.
Menjelang Aqeela 6 tahun, diputuskan untuk mendaftarkan Aqeela ke SD Islam terdekat. Kejadiaan yang bersama terulang, mogok gak mau belajar dan gak mau ditinggal. Kalo PAUD kemaren, masih bisalah ijin ke kantor sampai jam 11, trus masuk lagi. Lha ini SD-nya full-day sampai jam 4. Kapan ngantornya? Keputusannya: ya sudahlah, HS saja. Capek dan sayang uangnya. #pelitnya keluar deh hihihi#
Jadi buatku, HS menjadi pilihan wajib, karena anaknya mau. Jadi ya mau gak mau, ya harus mau HS. Tapi, jauh di lubuk sebenarnya, aku jatuh cinta setengah mati sama HS. Ide bahwa belajar itu harusnya menyenangkan dan belajar karena senang, sungguh membiusku #halah#. Walau capek, walau rumah gak pernah rapi, walau esmosi tingkat tinggi, tapi berharga sekali untuk dijalani.
Dengan HS, aku jadi belajar karakter masing-masing anakku dengan lebih detail. Belajar membaca kelebihan dan kekurangannya. Belajar mengasah kelebihannya dan meminimalisir kekurangannya. Aku belajar bahwa bonding-ku dengan anak-anak sangat penting untuk dijaga dan mengelola emosi menjadi bagian penting HS kami. Aku belajar bahwa team work akan mengurangi bebanku dan tugasku sekarang adalah mendelegasikan beban-bebanku itu pada team-mates-ku, yaitu anak-anak. Dan semua itu butuh proses. Butuh waktu, energi serta kesungguhan dalam prosesnya. Dan proses itu aku nikmati pasang surutnya.
Jadi, walau nanti si adik, Khaira (aka Kei) yang lebih easy-going sampai masanya sekolah, aku tetap memilih HS. Walau nanti Farras ternyata tidak masalah dengan sekolah, aku juga akan tetap menyebarkan virus HS buat anak-anakku #hihihi# bahwa 'belajar itu menyenangkan' dan 'belajarlah sesuatu yang kau senangi' karena belajar itu wajib, belajar itu sepanjang hayat.
Jadi nekad HS dan bekerja, ya nekad aja. Allah yang memampukan ^_^ Read More
Yak, bener 100 persen. Menurutku, orang tua yang bekerja, tapi memilih homeschooling buat anak-anaknya itu NEKAD. Kurang kerjaan dan gak mikir panjang. Abis kerja kan capek, belum lagi ngurusin anak yang lebih dari satu, belum lagi ngurusin perintilan rumah yang ga ada habis-habisnya, mana ga punya asisten rumah tangga lagi, belum lagi mikirin materi belajar anaknya, belum lagi mengontrol emosi sampai tingkat dewa. #eeehh, ini lagi nyeritain diri sendiri ya?hmmmm...# Jadi kesimpulanku, yang nekad hs sambil bekerja itu kalo gak super duper hebat pasti karena agak gila. Dan karena sadar bahwa diri bukan yang pertama, aku otomatis adalah yang kedua. #yaaaah, jadi ngaku deh.
Homeschooling dan bekerja itu asli capek. Meletihkan sekali. Pulang kerja harusnya istirahat atau mau beres-beres, harus rela dan siap diintilin sama berjejer pertanyaan yang harus direspon, karena sudah dipendam beberapa jam selama mamanya ngantor, mumpung mamanya sudah di rumah. Belum lagi capek-capek dari kantor, langsung disuguhi adegan berantem ala kakak adik yang tak jarang juga mendidihkan darah si mama. Sambil beres-beres rumah pun, tak jarang kepala diberatkan dengan pikiran 'anakku sudah belajar apa?' 'besok harus ngapain ya?' 'duh, ni anak dikasih materi apalagi?' 'ni anak-anak kenapa ga nurut sama mamanya sih?' dll dsb dsk dst...lanjutin sendiri deh #lhaaa...malah nyuruh-nyuruh#.
Bukan tidak pernah menyekolahkan Aqeela, si sulung yang sekarang umurnya 6 tahun lebih. Karena kawatir dengan 'gimana ni sosialisasi anakku?', Aqeela pernah didaftarkan ke PAUD dekat rumah, yang hasilnya adalah, anaknya gak mau masuk dan belajar, kecuali mamanya ikut masuk dan duduk di sampingnya. Pernah dicoba ditinggalin saja, biarin deh nangis, ntar juga berhenti sendiri, nanti lama-lama juga betah di sekolah. Lhaaa...kalo sampai berminggu-minggu tetap begitu, aku gak bisa ngantor dong? Lhaaa...kalo sampai berminggu-minggu tetap nangis, mogok sekolah tanpa mama, nelangsa amat ya nuntut ilmu itu. Keputusannya: gak usah sekolah deh, gak tega liat yang nangis-nangis hanya karena mau belajar.
Menjelang Aqeela 6 tahun, diputuskan untuk mendaftarkan Aqeela ke SD Islam terdekat. Kejadiaan yang bersama terulang, mogok gak mau belajar dan gak mau ditinggal. Kalo PAUD kemaren, masih bisalah ijin ke kantor sampai jam 11, trus masuk lagi. Lha ini SD-nya full-day sampai jam 4. Kapan ngantornya? Keputusannya: ya sudahlah, HS saja. Capek dan sayang uangnya. #pelitnya keluar deh hihihi#
Jadi buatku, HS menjadi pilihan wajib, karena anaknya mau. Jadi ya mau gak mau, ya harus mau HS. Tapi, jauh di lubuk sebenarnya, aku jatuh cinta setengah mati sama HS. Ide bahwa belajar itu harusnya menyenangkan dan belajar karena senang, sungguh membiusku #halah#. Walau capek, walau rumah gak pernah rapi, walau esmosi tingkat tinggi, tapi berharga sekali untuk dijalani.
Dengan HS, aku jadi belajar karakter masing-masing anakku dengan lebih detail. Belajar membaca kelebihan dan kekurangannya. Belajar mengasah kelebihannya dan meminimalisir kekurangannya. Aku belajar bahwa bonding-ku dengan anak-anak sangat penting untuk dijaga dan mengelola emosi menjadi bagian penting HS kami. Aku belajar bahwa team work akan mengurangi bebanku dan tugasku sekarang adalah mendelegasikan beban-bebanku itu pada team-mates-ku, yaitu anak-anak. Dan semua itu butuh proses. Butuh waktu, energi serta kesungguhan dalam prosesnya. Dan proses itu aku nikmati pasang surutnya.
Jadi, walau nanti si adik, Khaira (aka Kei) yang lebih easy-going sampai masanya sekolah, aku tetap memilih HS. Walau nanti Farras ternyata tidak masalah dengan sekolah, aku juga akan tetap menyebarkan virus HS buat anak-anakku #hihihi# bahwa 'belajar itu menyenangkan' dan 'belajarlah sesuatu yang kau senangi' karena belajar itu wajib, belajar itu sepanjang hayat.
Jadi nekad HS dan bekerja, ya nekad aja. Allah yang memampukan ^_^ Read More
Subscribe to:
Posts (Atom)